Dakwah · Motivasi · Tarbiyah

Umar bin Khattab

*Meneladani Sifat Tawadhu pada Sosok Umar bin Khattab*

Tawadhu merupakan sikap rendah hati, tidak merasa segala usaha yang ia capai adalah berkat kerja kerasnya sendiri melainkan adanya pertolongan Allah yang di yakini dalam hati, bahwa segala kesuksesan dan keberhasilan hidup semata-mata berkat Allah SWT. Allah swt juga menjelaskan pengertian tentang sifat seorang hamba yang rendah hati dalam Al-Quran, yang artinya:

_“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah)orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”_ (Q.S. Al Furqan : 63)
Orang yang tawadhu bukan berarti dia ia merasa telah mengalah dan merendahkan dirinya kepada manusia, tetapi orang tawadhu’, ialah yang apabila ia berbuat sesuatu merasa dirinya belum layak mendapatkan kedudukan itu. Orang yang memiliki sikap tawadhu adalah orang yang tidak pernah sombong dan bersikap angkuh dan tidak pernah menyombongkan diri. Karena orang yang sombong akan ditempatkan Allah di  dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak menyukai serta memurkai orang-orang yang sombong, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, yang artinya :

_“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”_ (QS. Luqman : 18)
Tidak salah apabila kita belajar tentang kerendahan hati atau tawadhu pada sosok Umar bin Khattab. Sungguh, tiada yang menyangsikan kepribadian beliau yang memukau.
Diriwayatkan pada masa pemerintahannya, beliau  mengutus kaum Muslimin untuk berperang melawan Bangsa Persia. Perang ini terkenal dengan sebutan perang Qadisiah.
Berkat pertolongan Allah, Kaum Muslimin yang dikomandani oleh Sa’ad bin Abi Waqqas berhasil memenangkan pertempuran. Sa’ad lalu menulis sepucuk surat yang mengabarkan kemenangan heroik tersebut kepada Amirul Mukminin di Madinah. Surat itu dibawa oleh salah seorang mujahid di antara mereka. 
Di penghujung kota Madinah, Umar bertemu dengan Sang Mujahid,

“Hai hamba Allah, ceritakan aku bagaimana keadaan kalian?”

“Sesungguhnya atas bantuan Allah, kaum Musyrikin telah hancur.”
Sang Mujahid sama sekali tidak tahu bila yang menjemputnya itu adalah Amirul Mukminin. Sebelum itu ia memang tidak pernah melihat wajahnya. Itulah sebabnya kenapa ia tidak turun dari untanya sampai keduanya masuk kota. Kaum Muslimin sedikit heran dengan kejadian itu. Mereka lalu mengucapkan salam kepada Umar. Setelah itu, sang mujahid pun sadar.
“Semoga Allah merahmatimu, kenapa Engkau tidak berterus terang bahwa Engkau adalah Amirul Mukminin” Tanyanya sungkan.
Umar menjawab ringan, “Tak masalah saudaraku.”
Kisah di atas adalah satu dari sekian kisah yang penuh inspirasi dan kaya hikmah dari seorang Umar bin Khattab.
Kira-kira hari ini bila ada utusan yang tidak mengenal kepada siapa dia diutus, sedangkan orang penting itu ada di depan matanya tapi utusan itu tetap santai, kira-kira bagaimana reaksi orang penting tersebut? Hampir pasti dia akan marah sambil berkata, ”Kamu tahu tidak saya ini siapa?” atau ”Kurang ajar kamu.” Berbeda dengan Umar yang sedikitpun tak mengobral sumpah serapah. 
Ketika Umar bin Khatthab menjelang meninggal pun tetap menampakkan ketawadhuannya. Rendah hatinya tetap saja melekat, meskipun pujian itu benar adanya. 
Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas datang menjenguk beliau di detik-detik akhir hayatnya, lalu Ibnu Abbas berkata kepadanya, ”Wahai Amirul Mukminin, engkau masuk Islam ketika orang lain kafir, berjihad bersama Rasulullah saat beliau ditelantarkan manusia, dibunuh dengan status syahid, tidak ada dua orang yang berbeda pendapat tentang dirimu, dan Rasulullah ridha keadamu ketika beliau wafat.” Umar lalu berkata kepada Ibnu Abbas, ”Coba ulangi perkataanmu.” Ibnu Abbas lalu mengulangi ucapannya. Umar lalu menimpali, ”Orang tertipu adalah orang yang Anda tipu. Demi Allah, andai aku punya kekayaan seisi dunia, aku pasti menebus kematian dengannya, karena begitu dahsyatnya apa yang akan terjadi.”
Tawadhu merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia. Jadi sudah selayaknya kita sebagai umat muslim bersikap tawadhu, karena tawadhu merupakan salah satu akhlak terpuji yang harus dimiliki oleh setiap umat islam. Rasulullah SAW bersabda: yang artinya “Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu’ kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat ‘izzah) oleh Allah. (HR. Muslim).
Semoga kita dapat meneladani sifat tawadhu ini pada sosok Umar bin Khattab yang merupakan sahabat Rasulullah dimana beliau sudah dijamin masuk surga oleh Allah SWT. Amin ya rabbal ‘alamin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s