Cinta · Dakwah · Parenting · Tarbiyah

SUASANA

 

Credit by @deddysussantho

 

Ya, suasana. Aku selalu bertanya kepadamu jika kau dinas. Bagaimana suasana disana? Bagaimana lingkungan sosialnya? Bagaimana makanannya, minumannya, hotelnya? Bagaimana muslim disana? Bagaimana tayangan lokal disana?

Ya, suasana. Itu yang selalu kutanyakan kepadamu begitu kau mendarat dengan pesawatmu itu. Setidaknya, aku bisa membayangkanmu dengan suasana itu. Tak ayal, kau mengirimkan foto-foto suasana disana.

Ya, suasana. Bagaimana kau menceritakan Batam, Aceh, Bandung, Yogyakarta, Solo, Bogor, Bangka Belitung, Riau, Makasar, Ambon, dll. Masyarakatnya, makanannya, minumannya, dan lain sebagainya.

Ya, suasana. Kota Ambon yang hampir sepekan ini kau disana yang membuat aku penasaran kondisi muslim disana. Sebelum kesana, aku berpesan bahwa hati-hati dengan apa yang dimakan dan pelajarilah budayanya. Maaf, aku hanya khawatir saja (wilayah timur biasanya mayoritas non muslim).

Ya, suasana. Kau bercerita, bahwa di Ambon kau makan Ikan Babarak dengan sambal colo-colo (mirip acar tapi bukan dengan cuka, namun memakai lemon). Maluku yang kau datangi perkembangannya tak sebagus Maluku Utara karena efek kerusuhan yang berlangsung kurang lebih 10 tahun lalu. Kaum muslimin dan non muslim bisa ditandai dari marga dan tempat tinggalnya. Jika di daerah pesisir seperti yang kau tinggali adalah daerah mayoritas muslim, tapi kalau daerah pegunungan lebih banyak non muslimnya.

Mereka memiliki solidaritas yang cukup tinggi. Tak seperti yang dikira, perangai mereka halus dan ramah-ramah.

Secara teritorial, 90 persen lebih Maluku adalah perairan. Menariknya, Kota Ambon ini berada di tengah teluk, sehingga dikelilingi laut. Itu sebabnya sulit bagi mereka di kab/kota untuk hadir. Bagi mereka lebih berharga akses kendaraan udara ketimbang darat. Pun begitu, situasi di sini cukup asri, perpaduan pedesaan dan perkotaan, mirip Yogya. Akhirnya, kau belajar kosa kata baru: Maitua (Isteri) dan Paitua (Suami).
Ya, suasana. Salah satu yang terekam lewat foto-foto adalah foto anak-anak kecil yang sedang berbaris rapi untuk menunaikan sholat berjama’ah di Masjid Raya Al Fatah, Ambon. Foto yang kau kirimkan itu, membuat aku senyum-senyum. Subhanalloh, anak-anak sholat.

Ya, suasana. Entah mengapa, aku paling suka suasana anak-anak sholat. Kegiatan ibadah yang utama dalam agama. Seru melihat anak-anak belajar sholat. Subhanalloh walhamdulillah… Kau tau, sebelumnya Alloh memanggil rasa cintaNya lewat adzan yang berkumandang? Lalu anak-anak secara sadar mendatangiNya lewat sholat? Ya, secara sadar. Itu yang kuharapkan dari dulu ketika mengajari anak-anak sholat.

Ya, suasana. Ingatkah kau, ketika aku bertanya, Bagaimana agar anak-anak mau sholat? Bagaimana posisi anak-anak ketika sholat berjama’ah di Masjid? Bagaimana jika ada anak-anak yang “menubruk tubuh” ketika sholat? Lalu, kau “tersenyum”.

Ya, suasana. Anak-anak itu adalah manusia yang paling plagiat.. Hhhee…. Maka, mari kita mencontohkannya… Jika kita mengajaknya sholat, kitapun harus sholat. Lalu, jika berjama’ah di Masjid, posisikanlah anak-anak di antara orang dewasa. Mintalah anak-anak itu bercerita ketika selesai berjama’ah di Masjid, jika belum sesuai dengan adab-adabnya, maka beritahulah dengan cara yang ma’ruf dan pujilah jika ia melaksanakannya dengan baik. Ingat, dalam pujian kita sertakan Alloh, bahwa Alloh saja suka dengan anak-anak yang mendirikan sholat apalagi Ayah atau Ibu. Hhhee… In syaa Alloh jadi semakin di sayang Alloh, di sayang Ayah dan Ibu.

Ya, suasana. “Ya Alloh, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang mendirikan sholat. Perkenankan doaku ya Rabb.” Aamiin..

Ya, suasana. Kuakhiri tulisanku kali ini dengan suasana malam yang dingin setelah hujan petir seharian, dimana Syawal kaget karena petir dan akhirnya menangis. Aku mendekapnya, Syawal tenang, setelah itu aku memberi Selamat kepada Bapak dan Ibuku di milad pernikahannya ke 27 tahun. ¬†Alhamdulillah. (Wah, beda sehari doang sama aku dan suami. Hhhheee). Penutupnya, “Alloh, berikanlah kekuatan iman kepada Bapak dan Ibuku. Ampunkan segala kelemahan, senantiasa dalam ridhoMu. Jalan yang lurus ditunjuki, Alloh jadi sahabat sejati.”

Kedaung, 4 Oktober 2016

21.03 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s