Cinta

Setahun Bangun Cinta

Ada dua pilihan ketika bertemu cinta
Jatuh cinta dan bangun cinta
Padamu aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana,
tinggi menggapai surga
(Salim A. Fillah)

Kata-kata yang ada di lembar undangan kita setahun yang lalu. Pernahkah kita merenung mengapa kata-kata itu ada di undangan kita? Itu adalah tanda komitmen awal kita bahwa kita akan sama-sama membangun cinta. Tak mudah. Butuh istiqomah. Bahkan jangan menyerah.

Kita bertemu bukan karena jatuh cinta tapi kita bertemu dalam akad yang sah untuk membangun cinta. Cinta itu murni, anugerah dari Alloh untuk makhluk yang bernama manusia. Maka, kita harus memurnikannya dengan cara-cara manusia bukan makhluk selainnya (syetan bahkan hewan), menjaga cara-cara yang diajarkan agama, merawatnya melalui ayat-ayatNya. In syaa Alloh.

Hari ini, setahun yang lalu. Sungguh aku masih tak percaya, kaukah yang harus kutaati setelah Bapakku?

Hari ini, setahun yang lalu. Bapakku menyerahkanku kepadamu. Segala tanggung jawab Bapakku berada di pundakmu. Seluruhnya. Baik secara fisik maupun bathin. Kau kah itu?

Hari ini, setahun yang lalu. Ketika kau mengumandangkan surat Ar Rahmaan. Surat yang selayaknya ditadaburi. Penuh makna. Karena bagaimanapun kondisi kita nantinya tak lepas dari nikmaNya yang tak patut kita dustakan. Di masjid Ar Rahmaah, kau kumandangkan dihadapan seluruh yang hadir. Di tempat yang agak jauh, aku mendengarnya dengan sayup-sayup karena aku sedang berkonsentrasi berdoa memohon kepadaNya agar selalu ada keberkahan dalam perjalanan kita waktu itu dan selanjutnya.

Tak terasa, sambil gemetaran aku memegang Al Qur’an, terus menerus aku membacanya. Aku tak ingin tau keadaan di luar sana. Aku hanya ingin berbicara, memohon kepada Rabb-ku. Banyak hal yang kuceritakan kepadaNya, sampai ingin sekali aku menangis. Akhirnya, ada saudari-saudariku dan 2 orang Bulek-ku menjemputku, sambil meneteskan air mata dan memelukku mereka berkata, “Alhamdulillah, sudah SAH. Ayuk, keluar.” Diam seketika diriku ketika itu seperti lagi nonton film terus ambil remote pencet tombol pause. Aku masih tak percaya. Kau kah itu?

Hari ini, setahun yang lalu. Ketika aku melangkahkan kakiku menujumu. Rasanya aku ingin menghilang, aku ingin jadi kecil saja sampai tidak terlihat, aku ingin kabur. Aku tidak mau. Namun, Allohku yang tetap menakdirkan langkah kaki ini tetap menujumu. Lantas, benar saja, aku tak ingin dipakaikan cincin, berkali-kali dicoba di hadapan penghulu, tetap saja tanganku kaku dan gemetar dahsyat terlalu, badanku panas seperti air mendidih ketika kau berusaha memakaikan cincin itu. Kau tau, itu karena aku malu sekali, pertama kali jari ini bersentuhan dengan lawan jenis dan itu kamu. Teman yang sekedar kenal waktu semester satu. Hanya itu. Selebihnya, aku tak pernah tau dan tak pernah bertemu, berkomunikasi pribadi bahkan tak sedivisi dalam berbagai agenda.

Hari ini, setahun yang lalu. Mitsaqon ghaliza itu dimulai. Kau adalah suamiku. Dan aku adalah istrimu. Kau tau, sungguh aku takut dalam hal yang satu ini. Suami istri. Pernikahan. Nikah itu tidak mudah. Apalagi jika orientasinya Jannah.

Mengapa aku begitu takut, begitu hati-hati dan terus menerus berdoa kepada Sang Penguasa Hati ini. Kau tau, inilah ketakutanku:

*Ketaatan istri pada suami adalah jaminan surganya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Suami adalah surga atau neraka bagi seorang istri. Keridhoan suami menjadi keridhoan Allah. Istri yang tidak diridhoi suaminya karena tidak taat dikatakan sebagai wanita yang durhaka dan kufur nikmat.

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa beliau melihat wanita adalah penghuni neraka terbanyak. Seorang wanita pun bertanya kepada beliau mengapa demikian? Rasulullah pun menjawab bahwa diantarantanya karena wanita banyak yang durhaka kepada suaminya. (HR Bukhari Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya; Siapakah wanita yang paling baik? Beliau menjawab: “Yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, taat jika diperintah suaminya dan tidak menyelisihi suami dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci suaminya.” (HR. An Nasa’i, shahih)*

Oh, Alloh Ya Rabb… Bagiku itu amanah yang sulit dan berat. Sebagai istri. Apalagi, sekarang sebagai ibu. Aku takut.

Hari ini, setahun sudah berlalu. Mungkin banyak rasa dalam membangun cinta kita.
Mungkin ada suatu masa bangunan terhenti karena kurang semen, kurang batu bata, ada hujan deras, dll. Ya. Rumahtangga, ada rasa dukanya berasa rasa, bahagianya juga luar biasa. Namun, semoga selalu dalam berkahNya.

Hari ini, setahun sudah berlalu. Maafkan aku wahai suamiku… Maka dari itu, setiap hari sebelum tidur, aku menangis, meminta maaf kepadamu akan amanah-amanahku yang aku lalaikan kepadamu. Kau tau? Aku takut, bisa saja ketika aku tertidur, aku tak bangun lagi menatapmu dan belum sempat meminta maaf kepadamu. Aku takut, ketika kelak dihadapanNya, kau tak ridho kepadaku.

Hari ini, setahun sudah berlalu. Ada bahagia. Ada duka. Ada rasa cinta diantara kita. Ada buah cinta kita. Ada keluarga kecil kita. Kita bertiga. Ada banyak makna di tangga setahun kita. Semoga Alloh saja yang menjadi penguat perjalanan kita selanjutnya.

Kedaung, 3 Oktober 2016

Baru bisa posting ketika Syawal tertidur..
Selamat dinas ke Ambon ya Suamiku, Ayahku (kata Syawal). Semoga selalu sehat wal’afiat disana sepekan ini.. Kami selalu mendoakan dan merindukanmu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s